Tampilkan postingan dengan label Kecelakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecelakaan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Juli 2012 | 08.51 | 0 Comments

9 Tanda Penyakit dari Penampakan Kuku

1. Kuku Pucat

Kuku berwarna pucat atau cenderung berwarna putih kadang-kadang terkait dengan penuaan. Tetatpi ada 4 penyakit serius yang mungkin saja ditandai dengan kuku berwarna pucat, ini misalnya: anemia, gagal jantung, pengidap penyakit hati atau juga gizi yang buruk.






2. Kuku Putih

Jika kuku berwarna putih dengan ujung atas berwarna gelap mengindikasikan adanya masalah pada hati, seperti hepatitis.




3. Kuku Kuning

Salah satu penyebab paling umum kuku berwarna kuning adalah infeksi jamur. Semakin memburuknya infeksi bisa membuat kuku tidak tumbuh dengan sehat, menebal dan rapuh. Kuku kuning juga menunjukan kondisi yang lebih serius seperti penyakit tiroid parah, paru-paru, diabetes atau psoriasis.






4. Kuku Kebiruan

Kuku dengan warna kebiruan menandakan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Ini mengindikasikan adanya infeksi di paru-paru seperti pneumonia. Jika hanya sedikit kebiruan di ujung bawah kuku bisa juga menandakan diabetes.





5. Kuku Kasar

Jika permukaan kuku berkerut dan berbunyi jika diadu ini merupakan tanda awal dari psoriasis atau inflamasi arthritis. Perubahan warna kuku dapat terlihat merah kecokelatan.





6. Kuku Retak

Kuku terlihat kering, rapuh dan sering retak telah lama dikaitkan dengan penyakit tiroid. Jika memberlah dan berwarna kuning ada kemungkinan ini karena infeksi jamur.





7. Kuku Bengkak

Jika kulit di sekitar kuku terlihat merah dan bengkak, ini dikenal sebagai peradangan yang menunjukan adanya penyakit lupus dan gangguan jaringan ikat.



 8. Kuku Bergaris Hitam

Periksakan segera jika ada garis hitam di kuku Anda. Ini terkait dengan gejala melanoma atau yang dikenal dengan kanker kulit dari jenis yang paling berbahaya.


 
9. Menggigit Kuku

Menggigit kuku mungkin buat Anda hanyalah sebuah kebiasaan, padahal ini sangat mungkin menandakan kecemasan yang berlebihan dan membutuhkan pengobatan karena menderita gangguan obsesif-kompulsif. Jadi, jika Anda tidak bisa berhenti, ada baiknya berdiskusi dengan dokter Anda.

sumber
Baca Lanjutan 9 Tanda Penyakit dari Penampakan Kuku


Selasa, 22 Mei 2012 | 08.03 | 0 Comments

5 Kecelakaan Pesawat Terbang Yang Menabrak Gunung

Kali ini saya akan share 5 kecelakaan pesawat yang menabrak gunung, Saya share ini berdasarkan kejadian yang menimpa pesawat Sukhoi Superjet 100 yang kejadiannya belum lama ini, Pertama" mari kita panjatkan Do'a untuk para korban pesawat Sukhoi Superjet 100 supaya di lancarkan perjalanannya menuju yang Kuasa, Aminnn...

Ok kawan g usah lama-lama basa basinya,, hehehe, ini dia 7 kecelakaan Pesawat yang menabrak gunung:


[-]
Agni Air


Satu pesawat milik Agni Air jatuh di Jomsom, Nepal barat, Senin pagi, menewaskan 19 orang sementara itu lima lainnya berhasil diselamatkan hidup-hidup.




"Sembilan belas orang telah dikonfirmasi tewas sementara lima orang lainnya berhasil diselamatkan hidup-hidup," kata sumber-sumber di Nepal. Pesawat itu dalam penerbangan dari kota Pokhara ke Jomsom, Mustang.


Operasi penyelamatan sedang dijalankan. Sebagian besar penumpang adalah orang asing. Yang terluka telah diterbangkan ke rumah sakit untuk perawatan, kata sumber tersebut.


Sesuai laporan, pesawat tersebut jatuh karena mereka gagal saat memutar pesawat di bandara yang sempit. Bagian depan pesawat telah benar-benar rusak.


Sementara itu kantor berita Rusia RIA Novosti mengatakan, pesawat tersebut adalah pesawat turis.


Sedikitnya 13 orang tewas dan delapan lainnya terluka ketika pesawat penumpang Agni Air Dornier 228 jatuh di satu lapangan udara terpencil di Nepal utara, dekat Mustang, pada Senin, kata nepalnews.com.


Pesawat itu lepas landas dari kota kedua Nepal Pokhara, dan turun dekat Jomsom, medan pendaratan pendek yang dikelilingi oleh puncak gunung yang tinggi.


Ada tiga awak lokal di pesawat itu, enam belas orang India dan dua orang asing lainnya.


Menurut laporan Xinhua 19 orang tewas, mengutip sumber di militer Nepal.


Para korban tewas belum diketahui namanya. Salah satu korban selamat di antaranya adalah pramugari R. Haiju, namun kemudian meninggal di rumah sakit Pokhara.


Jomsom merupakan tujuan populer dengan para trekker menuju tempat ziarah di Muktinath di utara Mustang.


Pesawat Agni Air Dornier lainnya jatuh di Makawanpur, Nepal pada Agustus 2010, dan satu pesawat udara Beechcraft 1900D jatuh di dekat ibu kota Kathmandu pada September 2011.


[-]
Garuda Indonesia
Garuda Indonesia Penerbangan GA 152 adalah sebuah pesawat Airbus A300-B4 yang jatuh di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Indonesia (sekitar 32 km dari bandara dan 45 km dari kota Medan) saat hendak mendarat di Bandara Polonia Medan pada 26 September 1997. Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 222 orang dan 12 awak dan hingga kini merupakan kecelakaan pesawat terbesar dalam sejarah Indonesia. Kecelakaan ini berjenis CFIT (Controlled flight into terrain; bahasa Indonesia: Penerbangan Terkendali Menuju Daratan) dimana sebuah pesawat yang laik terbang dan memiliki kru yang terlatih tanpa sengaja jatuh ke tanah, pegunungan, atau perairan). Pilot umumnya tidak menyadari bahaya di depan hingga semuanya terlambat.
Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Medan dan telah bersiap untuk mendarat. Menara pengawas Bandara Polonia kehilangan hubungan dengan pesawat sekitar pukul 13.30 WIB. Saat terjadinya peristiwa tersebut, kota Medan sedang diselimuti asap tebal dari kebakaran hutan. Ketebalan asap menyebabkan jangkauan pandang pilot sangat terbatas dan cuma mengandalkan tuntunan dari menara kontrol Polonia, namun kesalahmengertian komunikasi antara menara kontrol dengan pilot menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung. Pesawat tersebut meledak dan terbakar, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.
Dari seluruh korban tewas, ada 44 mayat korban yang tidak bisa dikenali yang selanjutnya dimakamkan di Monumen Membramo, Medan. Di antara korban jiwa, selain warga Indonesia, tercatat pula penumpang berkewarganegaraan Amerika Serikat, Belanda dan Jepang.

[-]
American Airlines

American Airlines Penerbangan 965
adalah sebuah pesawat Boeing 757 yang terbang dengan rute Bandara Internasional Miami, menuju ke Bandara Internasional Alfonso Bonilla Aragon, Kolombia. Pesawat ini jatuh di gunung di Buga, Kolombia, disebabkan kesalahan pilot.

Sebelum Menabrak Gunung

Pesawat ini dimiliki oleh maskapai penerbangan American Airlines, dengan nomor registrasi N651AA. American 965 membawa 155 penumpang dan 8 orang kru. Pesawat dengan nomor penerbangan AA 965 ini terjatuh karena kru mengarahkan pesawat menuju sebuah gunung di Kolombia, dan tindakan salah yang diperbuat oleh kru. Padahal, kru pesawat American 965 sangatlah berpengalaman. Namun, tidak dengan Boeing 757. Saat pesawat AA 965 hendak mendarat di Cali, Kolombia, Air Traffic Controller Cali meminta pada pilot jika mereka ingin terbang langsung di pendekatan ke landasan pacu 19 daripada menuju landasan pacu 01. Pada saat bersamaan, angin berhembus dengan tenang. Kemudian, pilot menyetujuinya. Saat melakukan pendekatan, kru salah melakukan tindakan (menghapus data navigasi, sehingga salah mengambil arah), karena pengalaman kurang kru pesawat dengan Boeing 757.

Menabrak Gunung di Buga

Dua belas detik sebelum hancur di gunung, TCAS memberi peringatan bahwa pesawat mendekati wilayah berbahaya. Kapten dan First Officer pesawat berusaha menanjak sebelum menabrak gunung. Tapi, rem pesawat yang mengurangi kecepatan tanjak pesawat, dan terbang menuju ke puncak gunung. Dan akhirnya, pesawat hancur di gunung di Buga itu. Dari 155 penumpang dan 8 orang kru, hanya 4 orang yang selamat. Lebih tepatnya dianggap luka-luka.

Penyebab Kecelakaan (Menurut Aeronautica Civil)

Menurut Aeronautica Civil, penyebab kecelakaan Boeing 757-200 ini adalah sebagai berikut : 1. Kegagalan kru yang cukup untuk merencanakan dan melakukan pendekatan ke landasan pacu 19 di SKCL yang memadai dan penggunaan otomatisasi; 2. Kegagalan kru untuk menghentikan pendekatan ke Cali; 3. Kesadaran kru yang kurang mengenai navigasi vertikal, kedekatan menuju suatu daerah, dan lokasi yang relatif penting dari radio bantuan; 4. Kegagalan kru untuk kembali ke dasar radio navigasi.

Dramatisasi

Kecelakaan ini disiarkan dalam Air Crash Investigation dengan judul Lost (Hilang). Sementara itu, dramatisasi lainnya berjudul Crash In The Mountain (Hancur di Pegunungan).

[-]
Budha Airlines
 Wisata berakhir bencana. Itulah yang terjadi pada pesawat kecil tipe turboprop (berbaling-baling) milik maskapai penerbangan Buddha Air di Nepal, Minggu, 25 September. Selesai membawa para wisatawan dalam perjalanan tur ke sekitar kawasan Gunung Everest, pesawat tersebut menabrak lereng gunung dan hancur. Penumpang dan awak pesawat yang seluruhnya berjumlah 19 orang tewas.
Badan pesawat Beechcraft 1900D itu hancur berkeping-keping. Bahkan, sebagian besar juga dalam kondisi hangus. Hanya bagian ekspor yang masih agak utuh.
“Semua orang yang berada di dalam pesawat Buddha Air-103 itu tewas. Pesawat jatuh di kawasan perbukitan Kotdanda,” ujar Kepala Tim SAR Bandara Internasional Tribhuwan, Kathmandu, Bimlesh Lal Karna, kemarin.


Para korban terdiri atas 13 wisatawan asing. Menurut Menteri Pariwisata Nepal Ganeshraj Joshi, mereka adalah 10 warga India, dua Amerika Serikat (AS), dan seorang warga Jepang. Pesawat itu juga membawa tiga penumpang asal Nepal dan tiga kru. Dua wisatawan AS diidentifikasi sebagai Andrew Wade dan Natalie Neilan. Sedangkan turis asal Jepang bernama Toshinoti Uejima.
Sejauh ini belum bisa dipastikan penyebab kecelakaan. Pesawat jatuh di Bukit Kotdanda di Desa Bisankunarayan, sekitar sepuluh selatan Kathmandu, Ibu Kota Nepal.
Menurut juru bicara kepolisian Binod Singh, salah seorang korban sebetulnya masih hidup saat kecelakaan tersebut. “Kami langsung melarikan dia ke rumah sakit, tetapi dia kemudian tewas,” kata dia.
Singh menyebut, tim SAR sebetulnya telah menemukan seluruh korban. Tapi, evakuasi mengalami kendala. Sebab, helikopter penyelamat tidak bisa segera mendarat di lokasi karena buruknya cuaca.
Reuters yang datang ke lokasi musibah melalui jalan yang berlumpur dan sulit, menyaksikan mayat korban yang hangus dan hancur. Telepon seluler (ponsel), sepatu, dan benda-benda lain milik para korban berceceran di lereng gunung tersebut.
Pesawat milik maskapai swasta tersebut sedang menuju Kathmandu setelah selesai keliling Everest. Buddha Air menawarkan paket Everest Experience kepada wisatawan dengan tarif 8.240 rupee atau sekira Rp1,5 juta per orang untuk terbang keliling puncak gunung tertinggi di dunia itu dan beberapa puncak di sekitarnya selama satu jam dari Kathmandu.
Seorang saksi mata, Haribol Poudel, kepada Avenues Television menceritakan bahwa saat kecelakaan itu terjadi, lokasi sekitar dipenuhi kabut tebal sehingga mengganggu jarak pandang. Setelah menabrak lereng gunung, kata dia, pesawat menimpa atap sebuah rumah di desa sekitar dan kemudian hancur menjadi beberapa bagian. Untungnya, tidak sampai jatuh korban dari kalangan penduduk.
Buddha Air belum memberikan keterangan apapun soal musibah itu. Mereka berjanji akan memberikan pernyataan resmi segera. Tapi, dalam situsnya, maskapai penerbangan tersebut menyatakan bahwa pesawat Beechcraft termasuk paling aman dioperasikan untuk jalur domestik dan sesuai dengan kondisi wilayah pegunungan
 
[-]  Mimika Airlines
Sebelum jatuh, pesawat Mimika Air jenis Pilatus PK-LTJ menabrak gunung Gergaji. Diperkirakan, pesawat milik Pemda Mimika itu jatuh di dekat Sinak-Ilaga.

"Diperkirakan karena faktor cuaca," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Nurhabri dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Jumat (17/4/2009) pukul 12.30 WIB.


Nurhabri mengatakan, pesawat diperkirakan jatuh pada pukul 10.30 WIT. Pesawat yang terbang dari Ilaga itu hendak menuju Mulia.


Sebelumnya diberitakan, pesawat tersebut kehilangan kontak sebelum jatuh. Sinyal darurat yang dipancarkan pesawat tersebut sudah ditemukan di Gunung Sinap.


Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Departemen Perhubungan (Dephub) Bambang S Ervan, sebelumnya menyatakan, ada 8 penumpang dan 2 pilot di pesawat itu diduga tewas.
Baca Lanjutan 5 Kecelakaan Pesawat Terbang Yang Menabrak Gunung


Minggu, 13 Mei 2012 | 12.43 | 0 Comments

Alasan Mengapa Pesawat Sukhoi Terbang Rendah

Penyebab Pesawat Sukhoi Terbang Rendah - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memulai investigasi awal untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 di tebing Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Penyebab Pesawat Sukhoi Terbang Rendah
Penyebab Pesawat Sukhoi Terbang Rendah

Salah satu titik awal adalah meminta keterangan dari air traffic control (ATC) yang terakhir melakukan kontak dengan pesawat bernomor RA36801.

"Kalau itu sudah, sudah," jawab Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Marsekal Muda (Purn.) Tatang Kurniadi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/5). Namun, Tatang tidak menjelaskan lebih jauh mengenai hasil tentang informasi yang ditemukan.

Salah satu yang menjadi tanda tanya saat ini adalah yang mengizinkan pesawat SSJ 100 untuk decent (penurunan ketinggian atau Terbang Rendah ) dari 10.000 kaki (3.048 meter) ke 6.000 kaki (1.828,8 meter).

Pasalnya, penurunan tersebut dianggap berbahaya mengingat ketinggian puncak Gunung Salak yang mencapai 7.253,93 kaki (2.211 meter).

Selain karena ketinggian Terbang Rendah yang kurang, hambatan lainnya seperti angin dan kabut yang menyelimuti menjadi halangan bagi pilot untuk menavigasikan penyebab pesawat. Terbang rendah dalam keadaan tersebut bahkan kerap disebut haram bagi pesawat komersial.

Menurut konsultan PT Trimarga Rekatama, yang merupakan agen dari Sukhoi di Indonesia, Sunaryo, ada kemungkinan pilot meminta turun dari ketinggian karena ingin menyetir pesawat secara manual.

Ia juga tidak memungkiri bahwa dalam demo flight sering ada manuver pesawat untuk melihat kemampuan dan aerodinamika.

"Mungkin pilotnya ingin turun dan menggunakan secara visual (menyetir manual)," kata Sunaryo yang juga mantan perwira di TNI AU.

Ia menambahkan, pilot SSJ 100 Alexander Yablontchev hanya meminta penurunan ketinggian tanpa alasan tertentu.

Berbeda dengan Sunaryo, KNKT belum ingin menyimpulkan lebih jauh mengenai aksi tersebut. Tatang mengatakan, semua akan dibeberkan setelah investegasi yang dilakukan bersama Rusia, selaku negara asal Sukhoi, selesai dilakukan.

"Dalam investegasi itu ada aturannya yaitu tidak boleh menyimpulkan di awal," kata Tatang.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Daryatmo mengatakan, kecelakaan pesawat terbang sering terjadi di sekitar Gunung Salak. "Di situ anginnya besar, awannya tebal, karena itu sering terjadi kecelakaan," ujarnya.

Dari hasil pandangan awal, Daryatmo mengatakan ada kemungkinan Sukhoi menabrak tebing di ketinggian 5.500 kaki. "Terlihat medan ada (bekas) benturan dengan pesawat," ujarnya.

Anehnya, keterangan yang diperoleh mengenai ATC yang terakhir melakukan kontak dan mengetahui koordinat Sukhoi berbeda. Tatang mengatakan, ATC di Lanud Atang Sanjaya yang mengetahui koordinat terakhir, tapi Sunaryo mengatakan ATC di Cengkareng.

Keduanya tidak mau menjawab soal adanya kesalahan teknis dalam sistem dan teknologi navigasi pesawat. Padahal, pesawat diketahui keluar jalur sebelum menabrak

Sumber : mediaindonesia.com

Baca Lanjutan Alasan Mengapa Pesawat Sukhoi Terbang Rendah


Penyebab Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100


Ini Penyebab Jatuhnya Pesawat Sukhoi Versi LAPAN

JAKARTA - Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional menyatakan pada saat Sukhoi Superjet 100 menabrak tebing Gunung Salak 9 Mei pukul 14.33 WIB, gunung tersebut sedang diliputi awan  Cumulo Nimbus menjulang setinggi 37 ribu kaki (11,1 km).

"Logika sederhananya, pilot akan mencari jalan keluar yang paling aman. Namun menaikkan pesawat untuk mengatasi awan mungkin dianggap terlalu tinggi, dari 10.000 kaki harus terbang melebihi 37.000 kaki. Karena itu, pilihannya hanya mencari jalan ke kanan, kiri, atau bawah," kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan Thomas Djamaluddin, melalui ponsel dari Jakarta, Sabtu (12/5).

Karena itu, pilihan minta izin menurunkan ke 6.000 kaki, ujarnya, mungkin juga didasarkan pertimbangan ada sedikit celah yang terlihat di bawah, tetapi terlambat memperhitungkan risiko yang lebih fatal dengan topografi yang bergunung-gunung.

Ia menguraikan, data MTSAT menunjukkan sekitar waktu kejadian, awan di sekitar Gunung Salak memang tampak  sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70 persen.

Analisis indeks konveksi  yang bisa menggambarkan ketinggian awan juga menunjukkan indeks sekitar 30 yang bermakna adanya awan Cb (Cumulo Nimbus) yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki (11,1 km).

Data satelit itu, tambahnya, memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi. Pada saat sebelum jatuh itu, diinformasikan pesawat turun dari ketinggian 10.000 kaki (3 km) ke 6.000 kaki (1,8 km), padahal tinggi gunung Salak sekitar 2,2 km.

Namun analisis ini, tegasnya, hanya berdasarkan data satelit cuaca, sekadar untuk memberi jawaban sementara berdasarkan data, bukan berdasarkan spekulasi yang tak berdasar.

"Analisis komprehensif tentang faktor lainnya tentu kita nantikan dari analisis rekamanan penerbangan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), walau tentu saja faktor cuaca tetap tak dapat dikesampingkan," kata Djamal.

Sementara itu, mantan Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Syamsul Bahri yang ditemui mengatakan, saat berada di dalam kepungan awan seorang pilot memiliki risiko yang tinggi untuk tiba-tiba naik atau tiba-tiba turun.

"Karena itulah, setiap pilot selalu menghindari awan untuk menghindari risiko ini dengan terbang jauh di atas liputan awan. Namun mungkin si pilot belum menguasai medan yang berat ini," kata Kepala Biro Perencanaan BPPT  yang berpengalaman menerbangkan pesawat untuk layanan modifikasi cuaca itu. (Ant/OL-9)
Baca Lanjutan Penyebab Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100


Jumlah Korban Pesawat Sukhoi Superjet 100

GOOGLE MAPS Koordinat lokasi (tanda panah) pesawat Sukhoi Superjet 100 dengan nomor penerbangan RA36801 pada saat hilang kontak pada Rabu (9/5/2012).
Agen pesawat Sukhoi Superjet 100, PT Trimarga Rekatama, merevisi jumlah korban kecelakaan maut itu menjadi 45 orang. Sebelumnya, PT Trimarga Rekatama mengumumkan bahwa jumlah korban mencapai 47 orang.

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas nama Trimarga dan representatif dari Sukhoi. Saya sempat umumkan manifes penumpang 50 orang, terus tadi pagi menjadi 48 orang. Tadi pagi konfirmasi lagi jadi 47, dan kira-kira 15 menit lalu saya pastikan jumlahnya 45 orang," kata konsultan PT Trimarga Rekatama, Sunaryo, Kamis (10/5/2012) di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Ia mengatakan, dua orang yang terakhir batal menaiki pesawat adalah Budi Rizal dari Putra Artha Dirgantara, dan Syafrudin dari Karpediun Mandiri. "Mereka tidak jadi ikut karena mereka ini bersama dengan rombongan Suharso Monoarfa dan Andhika Monoarfa yang batal naik pesawat itu," ujarnya.

Sunaryo mengaku sudah berbicara langsung dengan dua orang tersebut dan memastikan mereka selamat. "Saya sudah telepon dan berbicara dengan mereka. Mereka benar-benar tidak ikut sehingga yang sebelumnya 47 orang jadi 45 orang," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, pesawat Sukhoi Superjet 100 dengan nomor penerbangan RA 36801 hilang kontak pada koordinat 06° 43' 08" Lintang Selatan dan 106° 43' 15" Bujur Timur. Koordinat itu diperkirakan dekat Cidahu, Gunung Salak. Penerbangan yang dilakukan pesawat milik Rusia tersebut merupakan bagian dari demonstrasi penerbangan yang diselenggarakan oleh PT Trimarga Rekatama. Perusahaan tersebut merupakan agen yang memperkenalkan pesawat Sukhoi kepada perusahaan penerbangan di Indonesia.

Pesawat tersebut melakukan penerbangan sebanyak dua kali. Penerbangan pertama dari Halim Perdana Kusuma menuju Palabuhan Ratu pukul 12.00 WIB dengan penumpang pebisnis di bidang penerbangan. Setelah terbang 35 hingga 45 menit, pesawat pun kembali ke Halim Perdana Kusuma dalam kondisi selamat.

Penerbangan kedua dilakukan pukul 14.12 WIB dengan mengangkut hampir 50 orang. Delapan orang di antaranya merupakan awak pesawat warga Rusia. Penumpang lainnya dari media massa dan utusan perusahaan di bidang penerbangan.

Kabar terakhir menunjukkan, tim SAR berhasil mendeteksi lokasi puing Sukhoi Superjet 100 di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut di kawasan Cidahu, Kebupaten Bogor, Jawa Barat.
Baca Lanjutan Jumlah Korban Pesawat Sukhoi Superjet 100


Sabtu, 12 Mei 2012 | 21.14 | 0 Comments

Foto Evakuasi Korban Pesawat Sukhoi Superjet 100

Kumpulan Foto Evakuasi Korban Pesawat Sukhoi Superjet 100,  Basarnas berhasil menemukan titik yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 milik Rusia tersebut. Kini, tim gabungan berupaya mencapai titik yang memakan waktu enam jam tersebut lewat jalur darat.

Marsekal Madya Daryatmo, Kepala Basarnas, merencanakan, setelah timnya berhasil ke titik yang dituju, sebanyak 47 korban yang terdata akan dievakuasi menggunakan pesawat Super Puma 332 milik TNI AU.















demikian bahasan saya tentang Kumpulan Foto Evakuasi Korban Pesawat Sukhoi Superjet 100 semoga dapat menginspirasi.

Baca Lanjutan Foto Evakuasi Korban Pesawat Sukhoi Superjet 100


 
Copyright Berita Bacaan © 2010 - All right reserved - Editing Beritabacaan Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.